
Menjadi seorang pemimpin bukan hanya sekadar berdiri di depan dan memberi perintah dan arahan kepada bawahan. ia adalah perjalanan panjang yang penuh beban, karena di belakang setiap keputusan ada manusia dengan kepentingan, dan cara berpikir yang berbeda-beda.
Menjadi Seorang pemimpin memiliki beban yang sangat berat dan akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat sebagaimana dalam hadits disebutkan
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
artinya “Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya“,
Seorang pemimpin harus belajar mendengar banyak suara, bahkan ketika suara-suara itu saling bertabrakan. Ada yang berbicara dengan emosi dan nada yang tinggi, ada yang dengan logika dingin, ada pula yang diam namun menyimpan kekecewaan. Menyatukan semuanya bukanlah suatu perkara yang mudah. Sering kali, apa yang benar bagi satu pihak terasa menyakitkan bagi pihak lain. Di titik inilah seorang pemimpin diuji memilih bukan berdasarkan kesukaan, melainkan demi tanggung jawab dan tujuan bersama.
Pemimpin dituntut untuk tetap tenang di tengah perbedaan pemikiran. Ia harus menjadi jembatan antara perbedaan, penyangga saat kepercayaan goyah, dan cahaya ketika arah mulai kabur. Tidak semua orang memahami alasan di balik keputusan yang diambil. lebih banyak kritik yang datang dari pada apresiasi, dan kesalahan kecil bisa membayangi niat baik yang besar.
Namun justru di sanalah makna kepemimpinan tumbuh. Seorang pemimpin belajar menekan ego, merangkul perbedaan, dan berjalan bersama mereka yang tak selalu sejalan. walaupun lelah dan ragu, namun harus tetap melangkah. Karena menjadi pemimpin bukan tentang dipahami oleh semua orang, melainkan tentang berani memikul beban banyak kepala dan hati demi suatu tujuan bersama yaitu mencerdaskan anak bangsa dan menjadikan Madrasah yang berkualitas dan Mendunia. Muslimah (2026)
Tinggalkan Komentar